Home EKONOMI KREATIF “Bungkus Night’’ Party atau Prostitusi?

“Bungkus Night’’ Party atau Prostitusi?

24
0

MARKOM- Party atau pesta ini merupakan sebuah kegiatan yang bisa di artikan dengan makna yang positif atau negatif tergantung dari individu yang mendeskripsinya.  Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) Pesta adalah adalah perjamuan makan minum (bersuka ria dan sebagainya). Arti lainnya dari pesta adalah perayaan.

Dalam kegiatannya pesta ini dapat dilakukan dengan beberapa hal yaitu penjamuan makan, pernikahan atau pun dapat di artikan negatif dengan kegiatan kegiatan seperti meminum minuman keras dan sebagainya. Namun sebagian masyarakat yang mengartikan kegiatan pesta tersebut dengan kegiatan negatif karena banyak pula kejadian yang membuat kata pesta ini mungkin di pandang buruk di sebagian masyarakat. Masyarakat banyak yang mempunyai stereotype buruk pada pesta ini karena kegiatan yang biasa di lakukan saat pesta seringkali banyak mengandung hal negatif di dalamnya seperti minuman keras, obat obatan terlarang , dan juga seks bebas. Kegiatan pesta ini juga identik dengan kalangan remaja di zaman ini yang semakin di pengaruhi dengan budaya kebarat-baratan.

Ditambah lagi dengan beberapa kejadian baru baru ini yang menggemparkan masyarakat yang dilakukan oleh muda mudi di daerah tersebut yaitu suatu party yang di beri nama “Bungkus Night”

Baru baru ini kita di gemaparkan dengan fenomena  party yang di kemas salah satunya dengan nama “Bungkus Night”. Acara tersebut yang akan di laksanakan di daerah Jakarta Selatan pada tanggal 24 Juni 2022 ini sangat mendapatkan exposure dari masyarakat karena poster yang di buat oleh pihak event organizer mengandung unsur pornografi dengan berbagai point yang disampaikan dalam poster tersebut. Pihak dari kepolisian pun sudah melakukan beberapa penyedikan dan menetapkan beberapa tersangka dari kasus party berbau prostitusi ini.

Dilansir dari beberapa media polisi pun telah melakukan penutupan kepada salah satu tempat spa and massage di daerah Jakarta selatan tersebut. Kepolisian pun menemukan beberapa bukti ajakan prostitusi lewat ponsel tersangka dan telah disita sebagai barang bukti dalam kasus ini. 

Pihak kepolisan pun telah melakukan penyelidikan mengenai tempat penyelenggaraan acara ini yang terkesan nakal dalam pengoprasiannya. Pasalnya beberapa tempat hiburan lain masih menunggu izin untuk beroperasi lagi setelah pandemi covid 19 yang menyerang seluruh dunia ,dan hal ini menjadi berdampak kepada tempat hiburan lain yang masih menunggu izin untuk beroperasi.

Pihak kepolisan pun memberikan informasi bahwa tempat yang akan menjadi venue dalam acara “Bungkus Night” ini telah melakukan acara serupa pada tanggal 30 Maret 2022. Ini merupakan evaluasi juga bagi pihak kepolisian yang cenderung kecolongan pada acara yang di lakukan sebelumnya. Evaluasi tersebut harus segera dilakukan pasalnya jika polisi terus kecolongan dalam hal ini aka ada party-party selanjutnya yang akan menyerang kaum remaja di zaman ini.

Polisi pun menetapkan beberapa tersangka yang di tetapkan  Pasal UU ITE Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 45 masalah kesusilaan dan UU Pornografi yang berbunyi :

UU ITE Pasal 27 ayat (1) : “ Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan.”

UU ITE Pasal 45 : “Setiap Orang yang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).”

Para tersangka di tetapkan pasal ini karena di dalam poster mereka terdapat kesan pornografi dengan kata kata bungkus yang di artikan sebagai membawa pulang dan berhubungan intim. Selain itu di dalam poster tersebut banyak kata kata persuasif yang berbau sensual dan mengajak para audiencenya untuk melakukan hal yang berbau pornografi di dalam acara tersebut seperti “Onward till you drop”, “Special offer! 250k offer! 250k, bungkus include room”, dan “Datang dan bungkus mana aja yang lo suka!”. Di dalam jargon tersebut pihak event organizer dari acara tesebut mengajak para pesertanya untuk membuka room yang maksudnya untuk melakukan suatu tindakan prostitusi dengan wanita yang di sediakan oleh pihak panitia acara tesebut.

Dari kasus ini kita sebgai warga Indonesia akan terdampak pula pada budaya kebarat baratan atau yang di sebut Westrenisasi. Dalam definisinya  dalam buku Pengantar Ringkas Sosiologi (2020) karya Elly M. Setiadi, dijelaskan bahwa “westernisasi merupakan proses pengambilalihan unsur-unsur kebudayaan barat secara membabi buta tanpa melalui proses pertimbangan apakah unsur-unsur kebudayaan barat tersebut sesuai dengan kultur bangsa atau tidak’’. Lalu menurut Soerjono Soekanto, pengertian westernisasi adalah “suatu proses kehidupan yang mengutamakan industrialisasi dan juga sistem ekonomi kapitalis sehingga kehidupannya meniru atau berusaha sama persis dengan kehidupan masyarakat yang berada di negara Barat ”. dalam definisinya kita bisa artikan bahwa kaum kaum remaja di saat ini telah terdampak budaya tersebut dan akan melupakan budaya luhur yang telah di turunkan oleh leluhur kita dahulu. Dan ini juga akan membuat budaya dan kebiasaan masyarakat Indonesia di masa yang akan datang menjadi terpapar oleh budaya kebarat-baratan yang telah di anut oleh masyarakat pada saat ini.

Kita sebagai warga Indonesia yang baik dan menjunjung tinggi budaya luhur kita patut waspada dengan kejadian yang baru-baru ini terjadi di sekitar masyarakat kita dan dilakukan oleh kaum muda mudi di zaman ini.

Pasalnya kita sebagai masyarakat Indonesia tidak ingin dimasa yang akan datang menjadi masyarakat yang acuh terhadap lingkungan kita sendiri yang akan mencemari dan merusak kedaulatan Negara Republik Indonesia yang sangat kita cintai ini. Dan pemerintah pun dan pihak kepolisan harus lebih cepat tanggap dalam upaya penyelesaian masalah seperti ini agar masyarakat Indonesia terutama kalangan remaja di zaman ini tidak akan melakukan sebuah kegiatan yang melanggar undang undang yang telah di tetapkan dan mencemari nama baik negara Indonesia dan nama baik dari mereka sendiri.

OLEH Fauzan Pratama Annaswara, Mahasiswa S1 Digital Public Relations Telkom University

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here