Home ATL Iklan Valentine ‘Spade’s Burger’ : Yang Ngeres Visualnya atau Pikiran Kita Sendiri?

Iklan Valentine ‘Spade’s Burger’ : Yang Ngeres Visualnya atau Pikiran Kita Sendiri?

204
0
CongAd "Happy Valentine's Day" dari Spade's Burger/IST

MARKOMINDONESIA – Kemarin ketika heboh perayaan hari Valentine (14/2/2020) yang dianggap sebagai hari kasih sayang sedunia, sebuah produk burger mengeluarkan iklan yang sebenarnya sangat hardsell. Iklan itu langsung menampilkan produk burger-nya sebagai background dan key visual utama focus pada jari yang penuh dengan lelehan keju menggoda.

Lucunya sontak iklan ini mendapatkan apresiasi yang tak terduga. Ada sebagian orang yang menganggap iklan ini brilian, ada yang menganggapkan lucu, ada yang menganggapnya menjijikkan dan ada yang menganggapnya sebagai kejutan budaya (culture shock).

Tak bisa dipungkiri, cara kita memaknai atau mengapresiasi sebuah iklan, tentunya tak bisa terlepas dari referensi pengetahuan yang ada di memori atau otak kita. Karena itu tanggapan dan komentar seperti di atas hanya muncul dari orang-orang yang memiliki referensi atau pengetahuan yang digambarkan dari simbolisasi iklan tersebut.

Spade’s Burger/IST

Bagi orang yang tidak memiliki referensi atas simbolisasi visual yang ditampilkan iklan di atas, bisa jadi iklan tersebut dianggap biasa saja, mungkin Nampak lezat atau malah membingungkan. “Kenapa burger harus dicolok pakai jari?” tanya si awam.

Namun bagi mereka yang memiliki referensi pengetahuan mengenai hal itu, maka iklan tersebut memiliki makna yang luar biasa. Bisa porno, jorok, lucu, menggoda, menjijikkan, seksi, menggairahkan, nakal dan sebagainya.

Yang jelas apa pun pendapat Anda, sang creator telah mampu menghubungkan antara momen valentine di era milenial sekarang yang acapkali dimaknai berkaitan dengan cinta antar lawan jenis, seks dan hal-hal seputar itu dengan produk burger yang ditawarkannya.

Meski bagi yang mengerti iklan ini bisa dimaknai dengan sangat vulgar, namun simbolisasi yang dihadirkan mampu ditampilkan dengan apa adanya, real, dan memiliki banyak interpretasi yang bisa menyelamatkan iklan ini dari jerat tudingan pornografi.

Bahkan jika ada yang mengecam iklan ini sebagai sebuah iklan yang jorok, parno, menjijikkan, tabu dan terlarang, dan ngeres, dengan gampang mereka bisa berkilah, “Yang porno, jorok, ngeres dan kotor itu visualisasi iklannya atau otak dan pikiran mereka sendiri yang memaknainya begitu?”

Nah, bagaimana dengan isi pikiran Anda? |WAW-MARKOM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here