Home KASUS Ironi Stadion Sepi dan Jejak Deforestasi Olimpiade Tokyo

Ironi Stadion Sepi dan Jejak Deforestasi Olimpiade Tokyo

17
0
Stadion Nasional yang digunakan untuk penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 sepi tanpa penonton.| RAN Japan
Stadion Nasional yang digunakan untuk penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 sepi tanpa penonton.| RAN Japan

MARKOMINDONESIA – Olimpiade Tokyo dilaksanakan tanpa penonton di tengah keadaan darurat pandemi COVID-19 di Stadion Nasional yang baru, padahal pembangunan fasilitas Olimpiade Tokyo sudah seringkali dilaporkan oleh Rainforest Action Network (RAN) karena menyuplai bahan baku kayu lapis dengan menghancurkan hutan hujan tropis kritis di Asia.

“Ini merupakan ironi, karena stadion yang dibangun dengan mengorbankan hutan hujan tropis kini kosong tanpa penonton, namun otoritas penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 tetap mengabaikan laporan kami yang jelas-jelas menunjukkan adanya pelanggaran terhadap komitmen keberlanjutan yang tercantum dalam Kode Sumber yang Berkelanjutan untuk pengadaan bahan baku Olimpiade Tokyo. Pihak penyelenggara telah melakukan pencitraan palsu dari pemasaran hijau untuk tampil seolah-olah mereka menepati janji keberlanjutan mereka”, ungkap Toyo Kawakami selaku perwakilan RAN di Jepang.

Perlu dicatat bahwa strategi iklim positif Olimpiade Tokyo gagal mempertimbangkan jejak karbon dari ketergantungannya pada kayu tropis untuk kayu lapis bekisting beton. Sementara Rencana Keberlanjutan1 yang bertujuan untuk mengatasi emisi dari proses konstruksi —satu-satunya kriteria yang relevan untuk kayu lapis bekisting adalah penggunaan kayu lapis “daur ulang” dan penggunaan kayu Jepang.

Sebelumnya RAN telah memperingatkan Komite Panitia Penyelenggara Olimpiade dan Paralimpiade Tokyo terkait risiko penggunaan kayu lapis tropis bahkan sebelum mereka mulai membangun Stadion Nasional Baru. Namun, panitia gagal mengindahkan peringatan ini sampai jaringan LSM menemukan penggunaan kayu lapis ShinYang dari Sarawak, Malaysia, di lokasi pembangunan Stadion Nasional Baru.

Aksi protes jaringan LSM di Jepang menuntun agar Olimpiade Tokyo 2020 bebas deforestasi. |RAN Japan
Aksi protes jaringan LSM di Jepang menuntun agar Olimpiade Tokyo 2020 bebas deforestasi. |RAN Japan

LSM menemukan bahwa pembangunan Stadion Nasional menggunakan kayu lapis oleh kelompok perusahaan kayu Sarawak bernama ShinYang untuk bekisting betonnya, sebuah perusahaan yang telah berulang kali dikaitkan dengan pembalakan, konflik lahan, dan praktik yang tidak berkelanjutan2. Karena peringatan ini, penggunaan kayu lapis dari Sarawak digantikan dengan kayu lapis dari Indonesia3.

Pada November 2018, Rainforest Action Network (RAN), melayangkan keluhan dengan menyertakan bukti signifikan kepada Tokyo Metropolitan Government (TMG) dan Japan Sport Council (JSC) atas pelanggaran Kode Sumber yang Berkelanjutan terkait penggunaan kayu yang berasal dari hutan hujan yang dikonversi menjadi perkebunan dan habitat Orangutan Kalimantan yang terancam punah untuk pembangunan stadion Ariake Arena dan Stadion Nasional Baru.

Pada 26 Desember 2019 TMG4 merespon dengan menolak untuk memulai proses pengaduan atas kasus perusakan habitat orangutan oleh PT. Tunas Alam Nusantara (TAN) berdasarkan investigasi yang mereka lakukan sendiri melalui pemasok mereka, tanpa berkonsultasi dengan RAN. Penolakan proses pengaduan ini diikuti oleh JSC pada 16 Januari 2020.

Sementara Laporan Keberlanjutan Olimpiade tahun lalu telah menjelaskan mekanisme pengaduan sebagai alat untuk memastikan keberlanjutan Olimpiade, ini semakin menunjukkan bahwa mekanisme tersebut tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Hingga saat ini, penyelenggara Tokyo 2020 masih gagal mengungkapkan berapa banyak kayu Korindo yang mereka gunakan, dan menolak enam pengaduan yang diajukan RAN atas penggunaan kayu Korindo, dan hanya mengungkapkan sebagian dari mana kayu itu berasal.

Otoritas penyelenggara Olimpiade Tokyo 2020 harus berbuat lebih banyak untuk memastikan Olimpiade meninggalkan warisan yang berkelanjutan baik di negara tuan rumah maupun di seluruh dunia, terutama di negara-negara asalnya. Penyelenggara juga harus menegakkan standar keberlanjutan yang ketat dengan memantau dan meminta pertanggungjawaban negara tuan rumah yang tidak mematuhi standar lingkungan dan sosial tertinggi.|WAW-MARKOM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here