Home KASUS Jenama dan Bank Besar Gagal Hentikan Deforestasi dan Pelanggaran HAM

Jenama dan Bank Besar Gagal Hentikan Deforestasi dan Pelanggaran HAM

43
0
Anak laki-laki dari Masyarakat Adat Aek Lung di Sumatera Utara, sedang menyaksikan tanahnya dibuka untuk perkebunan pulp dan kertas milik Toba Pulp Lestari / Royal Golden Eagle. Foto: Agusriady Saputra / RAN
Anak laki-laki dari Masyarakat Adat Aek Lung di Sumatera Utara, sedang menyaksikan tanahnya dibuka untuk perkebunan pulp dan kertas milik Toba Pulp Lestari / Royal Golden Eagle. Foto: Agusriady Saputra / RAN

MARKOMINDONESIA – SAN FRANCISCO CALIFORNIA, Jenama-jenama ternama dan bank-bank multinasional besar gagal menghentikan deforestasi dan pelanggaran hak asasi manusia dalam praktik bisnis mereka, demikian temuan terbaru Rainforest Action Network (RAN), yang dirilis dalam laporan berjudul Mempertahankan Tegakkan Hutan: Evaluasi Merek-merek (Red:jenama) dan Bank-bank yang Mendorong Deforestasi dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia.

Temuan ini menegaskan, tidak satupun dari 17 jenama dan bank-bank yang dievaluasi telah mengambil tindakan memadai untuk mengatasi kontribusi mereka terhadap perusakan hutan serta perampasan lahan yang terus berlangsung, termasuk kekerasan terhadap Masyarakat Adat dan lokal.

Sejumlah jenama dan bank bahkan memiliki kinerja yang lebih buruk dibandingkan rekan-rekan mereka. Bank-bank seperti BNI, CIMB, ICBC, JPMorgan Chase, dan MUFG, bersama dengan jenama ternama seperti Colgate-Palmolive, Ferrero, Kao, Mondeléz, Nissin Foods, dan Procter & Gamble yang memiliki reputasi terburuk dengan nilai ‘F’ dari hasil evaluasi RAN.

“Beberapa merek dan bank besar dunia memiliki pengaruh serius atas kerusakan hutan hujan yang terus berlanjut, perampasan lahan dan pembunuhan aktivis pembela hak asasi manusia, namun merek dan bank ini tidak banyak bertindak untuk menghentikannya,” jelas Daniel Carrillo, Direktur Kampanye untuk Hutan, Rainforest Action Network (RAN).

“Jika kita menginginkan masa depan dengan iklim yang stabil, kita harus menjaga tegakan hutan. Tidak ada waktu tersisa bagi perusahaan-perusahaan ini untuk terus membiayai model bisnis yang berdampak terhadap hutan dan masyarakat,” tegasnya.

Petani di Lubuk Mandarsah, Provinsi Jambi, Indonesia tengah berjuang untuk mendapatkan akses terhadap lahan yang sudah mereka miliki secara tradisional, namun kini telah dibuka oleh Asia Pulp and Paper/ Grup Sinar Mas. Foto: Agusriady Saputra/RAN

Banyak dari jenama dan bank ini telah mengadopsi berbagai komitmen dan kebijakan di masa lalu untuk mencapai “Nol Deforestasi” dan menjunjung tinggi hak Masyarakat Adat dan hak asasi manusia dalam praktik bisnis mereka. Namun, hutan hujan di Indonesia dan yang ada di seluruh dunia terus dibakar, ditebang habis, dan dibuldoser setiap hari untuk komoditas seperti minyak sawit, pulp, kertas, daging sapi, kedelai, kakao, dan kayu.

Jenama-jenama multinasional memenuhi permintaan pasar untuk produk ini dan pembiayaan terus mengalir dari bank-bank besar di seluruh dunia. 17 perusahaan yang dievaluasi terpilih karena berpengaruh signifikan pada pasar komoditas ini.

“Dari Indonesia hingga AS, Masyarakat Adat dan lokal berjuang untuk melindungi tanah dan hutan mereka dari perusahaan yang ingin mengeksploitasinya tanpa persetujuan, ratusan ribu orang di seluruh dunia juga ikut mendukung dan meminta pertanggungjawaban perusahaan-perusahaan ini. Perusahaan yang tidak mengambil tindakan nyata berada di baris berikutnya,” kata Daniel.

Evaluasi ini menjabarkan langkah-langkah yang dapat diambil perusahaan untuk meningkatkan kinerja mereka. Diantaranya mengadopsi kebijakan untuk menghentikan deforestasi dan pelanggaran hak asasi manusia dari rantai pasokan dan pembiayaan mereka. Kemudian mengungkapkan secara publik dampak penuh bisnis mereka terhadap hutan dan hak Masyarakat Adat dan lokal. Juga mencegah tindak kekerasan dan memastikan bahwa hak-hak Masyarakat Adat dan lokal dihormati sepenuhnya, serta membuktikan bahwa klien dan mitra bisnis mereka benar-benar turut mematuhi kebijakan mereka. |WAW-MARKOM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here