Home Ide Kreatif Kejamnya Strategi Kampanye Iklan di SosMed, Tumpulnya Taji Kode Etik Periklanan Kita

Kejamnya Strategi Kampanye Iklan di SosMed, Tumpulnya Taji Kode Etik Periklanan Kita

232
0
Foto usil promo Grab yang mengolok-olok Gojek/IST

MARKOMINDONESIA – Berkat kecanggihan teknologis social media, marketing komunikasi atau kreativitas dalam beriklan bisa semakin menemukan kebebasannya yang luar biasa. Saling serang, saling sindir, komparasi langsung bisa dilakukan dengan gampang.

Ini salah satunya. Melalui platform sosmed Twitter, tiba-tiba secara kreatif akun Twitter Grab Indonesia @GrabID memention akun Twitter Gojek Indonesia @gojekindonesia untuk mengikuti program promo yang tengah mereka lakukan.

Begini cuitannya: “Min @gojekindonesia walaupun lagi sibuk tapi #janganlupamakan ya. Kasih tahu temen-temennya min, di grabfood lagi ada promo menarik bisa dipesen rame-rame. Met makan~

Kemudian cuitan ini pun dilengkapi dengan foto mitra driver grab yang bergaya layaknya para pendemo yang tengah mengangkat poster dari kertas kardus di depan kantor Gojek. Secara vulgar poster itu bertuliskan, “Dear Gojek, #JanganLupaMakan. Kutunggu orderan Grabfood mu. Xoxo!”

Tentunya ini bukanlah improvisasi sendiri dari sang mitra driver Grabfood. Pasalnya akun twitter yang digunakan untuk mencuitkan postingan ini merupakan akun twitter resmi. Lalu apakah iklan ini akan dianggap melanggar etika periklanan yang ada sehingga bisa menimbulkan sengketa atau hanya dianggap guyonan sosmed semata?

Tentunya hal akan tergantung pada masing-masing pihak yang bersaing di sini. Akankah Gojek menanggapi pancingan Grab ini sebagai tindakan melanggar etika periklanan yang perlu dipermasalahkan, atau dianggap hal biasa yang bisa dibiarkan begitu saja atau malah membalasnya dengan memanfaatkan platform social media yang ada.

Cuitan Grab yang menggoda Gojek dengan program promonya/IST

Yang jelas, persaingan tidak sehat serta komparasi langsung pernah membuat heboh dunia periklanan dimasa lalu hingga menjadi sengketa sengit di ranah hukum. Mungkinkah hal yang sama masih berlaku dengan berkembangnya social media sekarang, atau perlu adanya kode etik baru untuk mengantisipasinya.|WAW-MARKOM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here