Home B2B Kiat Meminimalkan Resiko Bisnis Peer to Lending di Tengah Pandemi COVID-19

Kiat Meminimalkan Resiko Bisnis Peer to Lending di Tengah Pandemi COVID-19

38
0
Fintech di tengah Epidemi Corona/IST

JAKARTASATU.COM – Covid-19 atau yang lebih dikenal dengan virus corona, semakin meluas di penjuru dunia. Hal ini memberikan dampak yang bervariasi pada banyak sektor bisnis termasuk bisnis Peer to Peer Lending. Akan tetapi, masih ada cara untuk melakukan optimalisasi di binis Peer to Peer Lending di tengah wabah ini, salah satunya adalah memperkuat mitigasi untuk meminimalisir resiko dengan melakukan penyesuaian pada algoritma dari Artificial Intelligence yang dikembangkan oleh Crowdo Indonesia.

Berdasarkan data yang dirilis oleh pemerintah melalui website resmi https://www.covid19.go.id/ pada hari Kamis (26/03/2020), saat ini terdapat 790 kasus positif virus Corona di Indonesia dan 472,529 kasus positif secara global. Kondisi ini memberikan dampak yang cukup signifikan di beberapa sektor industri seperti perdagangan, pariwisata dan hiburan. Sektor pariwisata dan hiburan menjadi salah satu sektor yang mengalami penurunan signifikan setelah pemerintah mengeluarkan imbauan untuk tidak melalukan aktifitas di luar ruangan dan juga larangan berpergian ke beberapa negara yang telah terindentifikasi Covid-19.

Tantangan yang dihadapi antara lain adalah perubahan standar operasional pada aktifitas pendistribusian barang serta adanya pelemahan permintaan.  Kondisi ini pun mempengaruhi bisnis Peer to Peer Lending yang berhubungan langsung dengan perusahaan – perusahaan yang terdampak kondisi ini. Efek dari pandemic ini disadari betul oleh Chief Commercial Officer Crowdo Indonesia Ikram Jeihan.

“Saat ini belum ada dampak signifikan terhadap bisnis Crowdo, pembayaran kewajiban borrower kami masih sesuai jadwal jatuh tempo yang ditetapkan. Namun, kami telah mengantisipasi potensi risiko yang akan terjadi. Tim kami telah merumuskan beberapa strategi bisnis yang telah disesuaikan dengan kondisi saat ini agar layanan kepada pihak terkait tetap optimal,” sebutnya.

Untuk mengantisipasi dampak buruk Covid-19 pada bisnis P2P, Ikram menjelaskan bahwa Crowdo Indonesia sebagai salah satu P2P Lending yang telah mengantongi izin penuh oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), telah melakukan mitigasi risiko terhadap kondisi bisnis saat ini. Salah satunya dengan cara melakukan penyesuaian algoritma Artificial Intelligence, sehingga para lender mendapatkan informasi yang komprehensif sebelum memutuskan untuk mendanai di platform Crowdo.

“Ada beberapa penyesuaian algoritma pada bisnis yang terdampak di sistem Artificial Intelligence kami. Ini bentuk komitmen kami di tengah pandemi Covid-19 agar para calon lender mendapatkan info terkini dan juga komprehensif sebelum memutuskan,” tambah Ikram.

Di tengah pandemi Covid-19 ini keselamatan dan kesehatan pegawai pun menjadi sorotan utama bagi Crowdo Indonesia agar layanan tetap berjalan dengan baik. Keunggulan Crowdo dalam segi teknologi menjadi kunci. Seperti yang dijelaskan oleh Ikram, “Bisnis akan berjalan seperti biasa dengan mengoptimalkan teknologi yang ada sehingga layanain kami kepada Lender dan Borrower tetap terjaga.”

Sementara itu, Crowdo Indonesia tetap berjuang bersama untuk mewujudkan mimpi para pelaku UMKM di Indonesia dengan tetap aktif dan membuka kesempatan sebesar-besarnya pada para lender dan calon lender untuk tetap menstabilkan ekonomi di tengah pandemi Covid-19. Crowdo Indonesia menawarkan return hingga 24% per tahun untuk calon lender dan juga beberapa program menarik bagi lender yang aktif sepanjang tahun. Ini berbanding lurus dengan meningkatnya persentase keberhasilan Crowdo Indonesia dalam hal pendaan ke UMKM sejak Januari 2019 ke Januari 2020 hingga 500 persen.

“Bagi Crowdo Indonesia setiap UMKM pantas mendapatkan pendanaan dan setiap individu pantas mendapatkan akses untuk menjadi pendana. Semuanya bisa menjadi pahlawan,” tutup Ikram.|WAW-JAKSAT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here