Home INSIGHT Kurangi Risiko Kematian Ibu dan Janin dengan Deteksi Dini Preeklamsia

Kurangi Risiko Kematian Ibu dan Janin dengan Deteksi Dini Preeklamsia

6
0
Kurangi Risiko Kematian pada Ibu dan Janin | pexels-cottonbro
Kurangi Risiko Kematian pada Ibu dan Janin | pexels-cottonbro

MARKOMINDONESIA – Tak bisa dipungkiri, tingginya angka kematian ibu dan janin di seluruh dunia menjadi pukulan keras bagi setiap negara, termasuk Indonesia. Di antara negara ASEAN lainnya, Indonesia memiliki angka kematian perinatal yang tertinggi. Dalam hal ini, preeklamsia menjadi penyebab utama mortalitas dan morbiditas ibu dan bayinya.

Memang memprihatinkan, bahwa hingga saat ini, masih ada masyarakat, khususnya ibu hamil yang belum memiliki pemahaman mumpuni tentang preeklamsia dan risiko yang ditimbulkan. Karena itulah topik ini menjadi bahasan utama pada sesi diskusi media “Deteksi Dini Preeklamsia untuk Kurangi Risiko Kematian Ibu dan Janin,” yang diselenggarakan oleh Roche Indonesia dalam rangka memperingati Hari Kesadaran Keguguran dan Kematian Bayi yang jatuh setiap 15 Oktober.

“Di masa pandemi ini, kematian ibu dan janin mengalami peningkatan drastis. Salah satu komplikasi kesehatan yang sering ditemui pada ibu hamil adalah preeklamsia. Sayangnya, banyak ibu hamil yang belum mendapatkan informasi yang memadai tentang preeklamsia, gejalanya, dan risiko kesehatan yang bisa muncul jika kondisi ini terlambat ditangani,” kata Director, Country Manager Diagnostics, Roche Indonesia, Ahmed Hassan.

Dokter Spesialis Kandungan, dr. Aditya Kusuma, SpOG menambahkan, preeklamsia setidaknya telah menyebabkan 76.000 kematian pada ibu hamil dan 500.000 janin di seluruh dunia. Komplikasi ini biasanya ditandai dengan tekanan darah tinggi dan dapat menyebabkan komplikasi, termasuk kerusakan pada organ vital, khususnya ginjal dan hati.

Preeklamsia dapat menyebabkan komplikasi serius bahkan fatal bagi ibu dan bayi, jika tidak ditangani dengan segera. Sayangnya, diagnosis preeklamsia terkadang terlewatkan karena banyak gejalanya tertutup oleh keluhan umum kehamilan seperti kaki bengkak, sakit kepala atau mual.

“Gejala-gejala preeklamsia tidak dirasakan pada awal kehamilan dan baru terlihat saat memasuki usia kehamilan 20 minggu. Sehingga, banyak ibu hamil yang terlambat dalam mendapatkan penanganan yang tepat ketika kondisi preeklamsia yang dimiliki sudah membahayakan ibu dan janin. Preeklamsia memiliki berbagai risiko bagi ibu dan janin dalam jangka pendek ataupun panjang, misalnya persalinan prematur, berat badan bayi rendah saat lahir, placenta abruption, kejang yang dapat berkembang menjadi eklampsia, bahkan berpotensi mengakibatkan kematian,” lanjut dr. Aditya.

Inovasi Deteksi Dini

Deteksi dini preeklamsia menjadi hal yang perlu diperhatikan sejak awal kehamilan. Di mana, para ibu hamil saat ini dapat mengakses pengujian preeklamsia lewat tes darah di berbagai rumah sakit dan laboratorium. Salah satu inovasi untuk deteksi preeklamsia adalah tes darah dengan menggunakan biomarker sFlt-1/PlGF yang kini dapat memprediksi kemungkinan terjadinya preeklamsia pada kehamilan, bahkan sejak trimester pertama kehamilan. Tentunya semakin dini kondisi preeklamsia dapat diprediksi, maka dokter dan ibu hamil dapat memberikan perawatan yang lebih cepat dan tepat.

Inovasi ini merupakan yang pertama di dunia untuk mendeteksi preeklamsia pada tahap awal kehamilan.

“Bersama mitra kami di rumah sakit, klinik, dan laboratorium, Roche Indonesia berkomitmen untuk menjaga kesehatan para ibu dan calon buah hati mereka melalui inovasi dan penelitian yang berkelanjutan. Sesi diskusi ini merupakan bentuk komitmen kami untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan bersama-sama memberikan peluang hidup yang lebih tinggi bagi ibu dan bayinya serta mengurangi risiko kematian dengan deteksi dini preeklamsia,” pungkas Ahmed menegaskan. |WAW-MARKOM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here