Home EKONOMI KREATIF Peringatan 85 Tahun B.J. Habibie Ini Kata Mereka

Peringatan 85 Tahun B.J. Habibie Ini Kata Mereka

10
0
BJ Habibie bersama Anwar Ibrahim/ist

MARKOMINDONESIA – LP3ES, Ikatan Alumni Program Habibie (IABIE) dan Yayasan Dandara menggelar Zoom peringatan 85 tahun B.J. Habibie. Presien ke3 RI ini dibahas dalam tema “Masa depan demokrasi dan tekno-ekonomi di tengah krisis dan pandemi: menjaga warisan Habibie”.

Acara pada (25/06/21) ini merupakan bentuk untuk mengingat gagasan B.J. Habibie dalam demokrasi, sains, teknologi dan Pendidikan dengan menghadirkan berbagai macam ahli sebagai pembicara.

“Selain menjaga keunggulan komparatif kita mestinya berjuang untuk mencapai keunggulan kompetitif sebagai sebuah negara” ujar Sambago Murti dalam pembukaannya.

Keynote Speaker  Prof. Dr. Ginandjar Kartasasmita mengatakan Indonesia berada dalam keadaan yang begitu krisis saat pertama Habibie mejadi presiden. Tidak hanya permasalahan ekonomi namun juga politik yang begitu banyak harus diselesaikan.

“Pada tahun 1997 nilai dollar masih berada di 2.400/ USD namun pada 1998 meningkat menjadi 16.000/USD dan Habibie berhasil menyelesaikan berbagai macam permasalahan yang dihadapi,” jelasnya.

“Krisis pandemi Covid-19 merupakan yang pertama kali terjadi di Indonesia semenjak kemerdekaan. Dari pandangan kita sekarang sulit sekali mengatasi krisis ini secara tuntas dan habis. Karena virus yang kita hadipi ini adalah virus yang terus berkembang,” lanjut Ginandjar Kartasasmita.

Ia juga mengatakan bahwa pandemi ini dapat mejadi momentum kita untuk melakukan perubahan dengan mengembangkan kebiasaan-kebiasaan baru yang sejalan dengan kemajuan teknologi.
Ginandjar melihat bahwa strategi pembangunan minimal harus memiliki 4 prinsip yaitu ekonomi inklusif, Ekonomi Digital, Ekonomi Hijau dan Ekonomi biru. Bukan hanya memikirkan investasi namun juga memikirkan apa keuntungannya bagi rakyat.

Ginanjar  bahkan mengaku sudah membuat 2 buku yang ada kaitan dengan Pak Habibie.
“Krisis akibat pandemi Covid-19 sekarang ini merupakan yang pertama kali dihadapi Indonesia sejak merdeka, tetapi dari sisi ekonomi tidak separah krisis ekonomi 1998 waktu itu. Nilai tukar rupiah Rp 2400/USD (Juni 1997) → Rp 16.000/USD (Juli 1998). Sektor perdesaan justru yang menjadi pendukung perekonomian selama krisis ekonomi 1998,” jelasnya.

Dulu katanya Ginanjar  ia diminta oleh Pak Habibie menjadi Menko Perekonomian sekaligus Kepala Bappenas. Ada 5 strategi pemulihan ekonomi yang diambil pada waktu itu (1998 – 1999). Kebijakan pemberian bansos adalah pertama kali diberikan pada masa kepemimpinan Pak Habibie, yang harus memanfaatkan hasil daerah setempat.

“Hasil kebijkan Pak Habibie nampak terlihat dari perubahan positif yang signifikan dari tingkat inflasi bulanan, yang maksimal 12,7% pada bulan Feb 1998, dan setelah itu turun terus sampai di bawah 1%. Tingkat kemiskinan juga memiliki kecenderungan turun. Bank Indonesia tidak dibolehkan membantu bank-bank korporasi, seperti kasus BLBI. Krisis ekonomi 1998 ini juga mengubah sistem otoriter menjadi demokrasi, dan sistem sentralisis menjadi desentralisasi, dijaminkannya kebebasan pers,” ungkap Ginanjar.

Masih kata Ginajar bahwa semua terjadi dalam waktu 1,5 tahun kepemimipinan Pak Habibie, dimana semuanya dilakukan melalui pengeluaran UU. Telah dihasilkan 64 UU di bidang ekonomi, politik, hukum dan HAM.

“UU Pemilu pada masa Pak Habibie dianggap sangat sukses, dan menghasilkan sistem pemilihan pemimpin yang ada saat ini,”jelasnya.

Mantan menteri di era BJ Habibie ini menyebutkan bahwa BJH amat berjasa dalam Independensi Bank Indonesia (BI) yang termuat dalam UUBI No. 23/1999 tgl 17 Mei 1999 yang diundangkan di era BJ Habibie (BJH).

“Independensi BI pada dasarnya adalah sebuah instrumen untuk menjaga demokrasi yang berlandaskan pada pelaksanaan hukum yang adil dan konsisten. Selain itu independensi BI adalah cara jitu untuk bisa berdisiplin dalam kebijakan fiskal dan moneter. Pengalaman dua masa pemerintahan sebelumnya di mana BI merupakan bagian dari pemerintah, terbukti tidak bisa disiplin dalam pelaksanaan anggaran sehingga menyebabkan inflasi dan ketidakstabilan yang sangat mengganggu,”paparnya.

Sementara itu Dipo Alam yang juga menjadi pembicara mengatakan dirinya mencatat, krisis di Indonesia paska gejolak reformasi dapat diatasi oleh BJ Habibie (BJH) secara cepat dalam 517 hari.

“Dalam beberapa hal, BJH dinilai memang cepat dan konsisten. Terdapat 5 legacy dari era kepemimpinan BJH yang perlu menjadi tauladan yakni Pertama, membuka ruang kemajuan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dalam pembangunan Indonesia, Kedua, memperbaiki perekonomian secara cepat, Ketiga, membangun SDM Indonesia, Keempat, membangun demokrasi dan Kelima, mengembangkan situasi keagamaan yang berimbang dan mempersatukan, bukan yang membelah persatuan,” ungkap Dipo Alam.

Selain itu, keberhasilan BJH membangun Indonesia tidak akan terjadi jika BJH tidak memiliki kepemimpinan yang kuat, efektif, modern dan demokratis sehingga krisis dapat diatasi dengan cepat. BJH juga amat memperhatikan perkembangan teknologi dan inovasi serta SDM, lanjutnya.

“Pandangan BJH tentang SDM sejalan dengan rekam jejak masa orde baru ketika orba dengan memanfaatkan oil boom ketika itu berhasil membangun SD Inpres, Puskesmas secara masif di Indonesia. Pembangunan SD Inpres di Indonesia mendapat pujian dunia karena merupakan program pembangunan Sekolah Dasar yang terbesar di dunia di kalangan penduduk pedesaan dan perkotaan,” jelasnya.

Sedangkan politikus gaek Amien Rais mengatakan bahwa Indonesia sudah bukan demokrasi yang seperti bagaimana awal tujuan. Menurutnya untuk memajukan Indonesia pemerintah harus membasmi para mafia yang ada dan mulai mementingkan kepentingan bangsa kita sendiri, jelas Amien. (FABIL/RED)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here