Home Ekonomis Bisnis Startup Asal Indonesia Jadi Panelis di Forum PBB

Startup Asal Indonesia Jadi Panelis di Forum PBB

16
0
Aruna STI Forum | IST
Aruna STI Forum | IST

MARKOMINDONESIA – Secara daring, forum STI tahunan yang keenam telah digelar pada 4 hingga 5 Mei 2021 kemarin. Kali ini, forum tersebut diselenggarakan oleh Presiden ECOSOC yang telah menunjuk dua ketua bersama, yaitu Andrejs Pildegovičs, Duta Besar dan Wakil Tetap Latvia untuk PBB, bersama Duta Besar Mohammad Koba, selaku Charge d’Affaires dari Indonesia Mission untuk PBB.

Sesuai mandatnya, forum ini diselenggarakan oleh Interagency Task Team on STI for SDGs (IATT) dari PBB beserta UN-DESA, UNCTAD, dan juga 10 Anggota Grup perwakilan tingkat tinggi yang ditunjuk oleh Sekretaris Jenderal.

Tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, tema Forum STI selalu dibuat selaras dengan High-Level Political Forum on Sustainable Development (HLPF), yang akan diadakan pada 6-15 Juli 2021 mendatang. Hanya saja lebih fokus pada peran dan kontribusi ilmu pengetahuan, teknologi dan inovasi. Oleh karena itu, tema Forum STI 2021 ini adalah: “Science, technology and innovation for a sustainable and resilient COVID-19 recovery, and effective pathways of inclusive action towards the Sustainable Development Goals”.

“Forum STI di sini unik karena mempertemukan berbagai pemangku kepentingan. Hanya di sini, begitu banyak regulator, pembuat kebijakan, dan pebisnis yang bergaul dengan inovator, akademisi, dan aktivis. Semua pemain ini memiliki kekuatan untuk membawa inovasi ilmiah ke skala dan memajukan pembangunan berkelanjutan, ” ujar Mohammad Koba, selaku Charge d’Affaires dari Indonesia Mission untuk PBB.

Hadir dalam forum tersebut perwakilan dari startup Indonesia, Utari Octavianty selaku founder dan Chief Corporate Officer dari Aruna. Sebagai sosok yang lahir dan besar di daerah pesisir di Balikpapan, Utari menyampaikan bahwa infrastruktur dan juga eksposur teknologi menjadi hal yang krusial dalam membangun bisnis yang berkelanjutan dan tahan banting.

Aruna adalah startup perikanan asal Indonesia yang menghubungkan nelayan kecil ke pasar global dengan teknologi. Ini adalah kali kedua Aruna menjadi studi kasus di forum PBB, setelah sebelumnya dibahas pada tahun 2020 lalu. Sampai saat ini, telah ada 20,000 nelayan yang bergabung dengan Aruna di 13 provinsi di seluruh Indonesia.

“Memperhatikan aspek people dan planet dalam bisnis sangat penting untuk menjadikan suatu bisnis berkelanjutan yang dapat survive dalam berbagai situasi, untuk itu kami membangun sistem yang mengintegrasikan karyawan Aruna dengan para penduduk lokal dengan berbagai keahlian. Di Aruna Site, ada tim yang bernama Local Heroes, yaitu pemuda daerah dengan kapabilitas teknologi yang bekerja sama dengan para nelayan dan juga ibu-ibu pemroses hasil tangkap.” ujar Utari Octavianty dalam forum tersebut.

“Pandemi dengan jelas menunjukkan bahwa orang perlu dilengkapi dengan keterampilan yang membantu mereka menavigasi lingkungan informasi yang kompleks saat ini dan membuat keputusan yang tepat,” tambah Andrejs Pildegovičs, Duta Besar dan Wakil Tetap Latvia untuk PBB.

Turut hadir dalam forum ini, Gillian Marcelle, dari Resilience Capital Ventures, Anna Andersone dari Riga Tech Girls dan Maxine Fassberg, dari Intel Corporation. | WAW-MARKOM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here