Home CSR Waspadai Risiko Gaya Hidup Pasif selama Pandemi

Waspadai Risiko Gaya Hidup Pasif selama Pandemi

9
0
Ilustrasi Photo: pexels-Karolina Grabowska
Ilustrasi Photo: pexels-Karolina Grabowska

MARKOMINDONESIA – Di tengah euforia menurunnya kurva pandemi Covid-19 di Indonesia, penyakit jantung masih menempati posisi pertama penyebab kematian di seluruh dunia. Gaya hidup pasif mayoritas pada usia produktif di perkotaan dinilai menjadi salah satu penyebab. Padahal, penyakit jantung sejatinya bisa dicegah dengan deteksi dini secara rutin. Topik ini menjadi bahasan utama pada sesi webinar bertajuk “Deteksi Dini Penyakit Jantung: Apakah Mungkin?” yang diselenggarakan oleh Siloam Hospitals Lippo Village dan Roche Indonesia.

“Selama pandemi, laju rata-rata mortalitas di rumah sakit akibat serangan jantung dilaporkan meningkat hingga 23 persen. Bahkan, 16,3 persen pasien yang dirawat di ruang isolasi Covid-19 ternyata mempunyai penyakit bawaan kardiovaskular, dengan gaya hidup pasif selama pandemi ditengarai menjadi salah satu pemicunya,” kata Director, Country Manager Diagnostics, Roche Indonesia, Ahmed Hassan.

Hal senada disampaikan oleh Dokter Spesialis Jantung & Pembuluh Darah Siloam Hospitals Lippo Village, DR. dr. Antonia Anna Lukito, Sp.JP(K), FIHA, FAPSIC, FAsCC, FSCAI yang menjelaskan, penyakit jantung telah menyebabkan setidaknya 15 dari 1.000 orang di Indonesia menderita penyakit kardiovaskular pada 2018. Gejala penyakit jantung kerap tidak disadari oleh pengidapnya, terutama jika pasien masih berusia muda dan produktif. Padahal, gejala seperti sesak napas yang disertai dengan keringat dingin, rasa lemas, jantung berdebar, atau nyeri dada sebelah kiri, kemungkinan besar menandakan adanya gejala penyakit jantung yang perlu dideteksi dan ditangani sejak dini. Oleh karena itu, cek jantung sejak dini juga berperan penting dalam menentukan tes-tes lanjutan apa yang harus dilakukan sesuai dengan kondisi kesehatan jantung masing-masing individu.

“Gejala-gejala penyakit jantung di fase awal kerap dirasakan sebagai gejala umum yang tidak membahayakan kesehatan. Sehingga, banyak pasien yang baru memeriksakan jantungnya ketika sudah mengalami gejala yang cukup parah. Negara lain bahkan merekomendasikan warganya untuk melakukan cek jantung rutin secara berkala minimal lima tahun sekali sejak usia 18 tahun, dan harus semakin sering jika memiliki riwayat kesehatan atau gaya hidup tertentu. Pada tahap ini, deteksi dini sudah menjadi hal yang mutlak dilakukan untuk mencegah semakin banyaknya keterlambatan penanganan pada penyakit jantung,” lanjut dr. Antonia.

Webinar Cardiac - Siloam | IST
Webinar Cardiac – Siloam | IST

Standar Emas Biomarker Deteksi Dini Penyakit Jantung

Deteksi dini penyakit jantung menjadi opsi ideal untuk mencegah terlambatnya penanganan penyakit jantung pada pasien. Salah satu inovasi deteksi dini penyakit jantung adalah penggunaan biomarker Troponin T dan NT-proBNP dalam tes darah, yang kini diakui sebagai standar emas deteksi dini penyakit jantung di dunia. Selain mampu mendeteksi penyakit jantung sejak dini, inovasi ini juga memungkinkan pasien untuk mencari tahu tingkat keparahan kondisi, merencanakan pengobatan yang efektif sesuai kondisi kesehatan, dan mencari tahu apakah pengobatan yang selama ini dijalani sudah bekerja dengan baik. Tes biomarker Troponin T dan NT-proBNP sendiri kini bisa diakses oleh pasien di berbagai rumah sakit dan laboratorium klinik, termasuk Siloam Hospitals Lippo Village.

“Melihat adanya peningkatan pasien penyakit jantung terutama akibat gaya hidup pasif selama pandemi, kami terus berupaya untuk berfokus pada penerapan intervensi dengan efisiensi biaya melalui deteksi dini penyakit jantung. Upaya ini sejalan dengan pencapaian target Sustainable Development Goal 3, yaitu setidaknya 30 persen pengurangan kematian dini akibat penyakit tidak menular pada 2030. Sesi webinar ini menjadi salah satu bentuk komitmen kami untuk bersama-sama mengajak masyarakat meningkatkan kesadaran akan pentingnya deteksi dini penyakit jantung dan bagaimana melakukan tahapan cek yang tepat sesuai dengan profil kesehatan masing-masing individu,” tutup Ahmed. |WAW-MARKOM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here